Tidak usah
kesan ini akan mengalir jauh melebihi batas nalarmu, sayang.
Kau bagai dilumat makna.
Takjarang pula kau mengaduh untuk memberi efek jenuh pada takdirmu.
Saya
mencoba membumbui arti takdir kita dengan baluran kata.
Jadi
Kau
juga harus menghormati setiap sayatan itu satu-persatu
Saya takmenyangka kau begitu gundah mempertahankan semua.
Bermula dengan isapan jari sampai kau harus benar-benar menguliknya.
Saya bodoh. Mempertajam sayat dengan lidah.
Tapi kau lebih bodoh! Mempermainkan lidah itu dengan kepak angsa..
22-08
Sendiri
Awalnya bola api itu tidak menggelinding mesra,
Ia hanya berjalan tertatih dengan semangat memakan manusia
Seluruhnya.
Awalnya, perjalanan tertatih itu mengobarkan mesra dalam tumbuk hatinya.
Ia mrmikirkan cara yang lebih suram dari segala.
Musnahkan.
Akhirnya, ia tahu semua percuma.
Karena
Sendiri.
22-08
3.
Redup nelangsa peri hati
Tak ikut marak disampai berang
Ketika bangga ada di sanubari
Tak pelak pasti dinanti orang
22-08
Bantuan
”jangan perkosa saya, Tuan.”
Wanita itu cukup gagah dengan baluran bingkai berwarna jingga
”saya takpeduli. Saya bukan Tuanmu.”
”jangan hina saya, Tuan.”
Seketika itu saya jambak lidahnya dengan pisau yang terhunus.
”saya bukan Tuanmu. Mintalah pada Tuhanmu.”
Wanita itu berkomat-kamit entah, mungkin melagukan sepiring nasehat untuk Tuhan.
Ia butuh bantuan.
22-08
21 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar