13 Desember 2008

puisi lagi..

II.

: soetardji

”cuah” kata saya
”puah” mantramu

”cuah” apa peduli saya
”puah” tetap jawabmu

”cuah” kau jangan main-main
”puah” kendalimu

“cuah” ah kau membuatku seperti letang
“puah” ha ha

“cuah” jangan!
“puah” ha ha

“cuah” sebut saja seperti itu
“puah”

P31- 2008

Semesta

“bunga itu sayang, jangan kau paksa dia mekar,” Kataku
“aku harus memaksanya. Jangan paksa aku untuk takmemaksanya,”katamu

“bunga itu, sayang, bagaikan kilau mentari yang takbisa dibiarkan terik di malam hari,”kataku
“aku takpunya pilihan selain memaksanya. Jangan berangan untuk memaksaku tidak melakukannya,”katamu

“jangan risau, sayang. Pulihkan ingatanmu pada semesta. Jangan lumpuhkan nadimu buat semesta merah,”kataku
“bunga itu, sayang. Ia takkan mau mekar tanpa paksa dan gelora,”katamu

“bunga itu, sayang. Sayang jika kau menaruhnya pada jangkar yang perlu air untuk hidup,”kataku
“baiklah, sayang. Mungkin kompromi ini akan memandikan kita dalam satu seruan : cabut saja akarnya,”katamu.
P31 - 2008

III.

Sajak itu congkak
Membiarkan diri berlari
Bunuh diri penyairnya takmembuat ia gentar.

Sajak itu congkak
Membuat penyairnya memikir pulir-pulir dari waktu yang taksengaja

Sajak itu congkak
Membayar murninya otak yang tak punya muara dengan dendam

sunyi

Roda maya bergetar
“halo, dengan siapa?”
Hari ini kotak sengsara
Besok dari hari ini kotak gembira
Roda dunia bergelepar
“saya, semesta.”

Klik.

P31 – 2008

Tidak ada komentar: