III. Roman Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer
Luar biasaaa..!! Ups..he he.. Roman ini benar-benar keren (Lebaaayyy).. tidak usah melihat dulunya Pram tuh siapa dan gimana, tapi nikmati aja sesuatu yang sudah dia tulis.. meskipun masih ada satu pertanyaan dalam diri nca : kenapa Pram mau masuk Lekra? Yup, siapa yang bisa jawab dengan subjektif (atau bahkan objektif.?)
Pemilihan sampul buku yang memperlihatkan seorang wanita Jawa dengan sanggul rapih, berbaju kebaya hijau agak awut-awutan, memakai dua gelang di dua belah tangannya, dan memakai kain dengan rapih, semua itu terusik dengan penggambaran mata yang kosong dan tangan kiri dari perempuan tersebut memegang stagen berwarna oranye. (soal warna, saya tidak akan membahasnya karena saya tentu tidak mempunyai perangkat untuk mengetahui simbol dari warna-warna tersebut) Mata yang kosong memfokuskan diri kepada pembaca bahwa sebuah gelungan sanggul yang rapih dengan kalung yang menghias leher dan anting-anting emas yang terpasang di daun telinga tidak akan membuat seorang perempuan menjadi senang hatinya (hlm.53) malah takut untuk menggunakan dan memunyai emas-emas tersebut.
Pengarang mengangkat tokoh perempuan menjadi seorang perempuan yang mengalami kesedihan nasib yang amat sangat. Di mulai dengan dipersunting dengan (hanya) sebuah keris (hlm.12) sampai harus rela meninggalkan anak yang dilahirkannya dan diusir (diceraikan) oleh Bendoro (hlm. 256). Pram tidak ingin memperlihatkan seorang perempuan yang mempunyai kekuatan fisik dan mental yang melebihi batasnya seorang perempuan, tetapi Pram hanya menyajikan sebuah realitas kekuatan perempuan sebagai seorang manusia yang mempunyai akal dan jiwa.
Gadis Pantai digambarkan baru berumur 14 tahun ketika disunting oleh Bendoro. Dengan memberikan umur yang sedemikian muda, Pram ingin memperlihatkan betapa kebobrokan sistem feodalisme Jawa yang kental dengan kasta (tingkatan kehormatan terhadap sebuah kelompok) yang dapat dengan mudah mempersunting (mengambil) seorang manusia dan dijadikan seorang percobaan.
Pasir di bawah itu terasa lunak dan buyar kena tendangan. Pohon mangga tertanam berderet seperti serdadu, sedang pohon-pohon pisang yang merana berbaris menepi pagar, seperti tahu akan kekecilannya. (hlm. 40)
Pada paragraf itu, Pram memetaforakan seorang Bendoro sebagai pohon mangga dan Gadis Pantai sebagai pohon pisang. Pada metafora inilah, pengarang memperlihatkan bahwa seorang Bendoro yang sangat ditakuti hanyalah sebuah pohon mangga yang besar tetapi tidak mempunyai manfaat sebanyak pohon pisang yang (meskipun) digambarkan merana berbaris tetapi ia dilukiskan mampu mengelilingi pagar yang berarti mampu menjadikan dirinya bermanfaat untuk orang banyak.
Teror yang dirasai Gadis Pantai memang teror takbertuan. Maksudnya adalah pembaca tidak bisa menyalahkan tokoh Bendoro terhadap ketakutan yang dialami Gadis Pantai karena diperlihatkan bahwa Bendoro tidak pernah menyakiti Gadis Pantai. Akan tetapi, yang membuat semua terror ini adalah memang system feodalisme yang menyebabkan Pram dapat mengatakan ada orang atasan dan ada orang kebanyakan. Teror inilah yang tidak terlihat dan tidak tersentuh oleh manusia. Sampai-sampai tokoh Gadis Pantai digambarkan seperti seekor ayam yang direnggut dari rumpunnya (hlm. 46).
Saya setuju dengan pendapat Ignas Kleden, bahwa Pram memperlihatkan kepiawaiannya bergelut dengan perasaan seorang perempuan. Dialog-dialog yang dibangun antara tokoh Pelayan Tua dengan Gadis Pantai mengalir sebagai dialog yang hidup. Gadis Pantai dapat merasakan dirinya sebagai seorang perempuan, seperti pada saat Pelayan Tua menceritakan tentang kakeknya dan Gadis Pantai dengan leluasa memberi komentar sesuai keinginan hatinya (hlm. 57). Sedangkan percakapan antara tokoh Gadis Pantai dengan Bendoro dirasa tidak mempunyai jiwa dialog tersebut, seperti ketika Gadis Pantai mencoba menyerahkan anaknya tetapi dengan penuh penekanan (dan tanpa belas kasihan) Bendoro menyuruhnya untuk menaruh anak itu ke ranjang. Perbedaan perlakuan dialog antara tokoh perempuan dan laki-laki di dalam roman ini seperti ingin memperlihatkan kepada pembaca bahwa Pram sebagai pengarang ingin sekali mencoba memaknai sosok perempuan yang sering atau sudah menjadi korban kefeodalan sosok laki-laki (Bendoro dalam roman ini).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar