IV.
Sebut saja saya Jamilah
Ya saya senang-senang saja
Sebut saja saya Jadah
Ya saya senang-senang saja
Tapi, saya lebih senang dipanggil hibah
Ya, saya mengaku saja.
Kucing
Saya bermimpi sayang,
Kamu mati diterkam kucing kesayanganmu
Iya, yang kamu beri nama semesta
Akh..
Sudah saya bilang saya takmenyukai kamu memelihara kucing
Kamu tahu sayang?
Mimpi itu datang setahap demi setahap
Pertama
Kucing itu minta persetujuan saya untuk membunuh kamu
Kedua
Kucing itu datang meminta benda yang bisa membunuh kamu
Ketiga
Kucing itu telah mengantarkan lidahmu ke rumahku
Aduh, istriku..
Mengapa kau masih saja mau memelihara kucing itu
Kurangkah saya bercerita fragmen mimpi itu?
Saya hanya takut mimpi itu jadi nyata
Dan saya takut mengijinkan kucing itu membunuhmu menggunakan kata dan terhantar lidah di rumah kita.
P31-2008
VI.
Jangan kau coba(-coba) mencongkakkan diri depan aku.
Kau hanya sebutir larva yang memanjang dari orang lain,
Kau sebut apa orang itu?
Ayo! Jangan diam. Aku bertanya,
bukan menunggu kau berfikir.
Buat apa sebenarnya orang itu hinggap di kelu bukumu,
Cih!
Aku tahu kau mengerti.
VII.
“jangan membuang sampah berlebihan, bunda.”
Saya tahu sampah itu hanya akan membuat rumah kita semakin kotor,
Ini sudah kotor, bunda.
“biarkan, biarkan rumah ini semakin kotor dengan sampah yang baik.”
Aku tidak mengerti.
Itu sampah, bunda. Tidak cocok dibuang di rumah,
Buanglah seperlunya.
Kau keterlaluan, Bunda.
Kau buang di tempat tidurku. Di spreiku. Di bantalku.
Bahkan di baju mandiku.
Cobalah Tuhan, beritahu Bundaku yang keras kepala ini,
Bahwa sampah tidak cocok dibuang di rumah.
VIII.
Makhluk kecil itu makan di sekitar badan lalat.
Temannya meneriakkan bahwa ada yang lebih enak di bulu kucing.
Makhluk kecil itu takberanjak, ia lebih senang dengan badan lalat.
Ada sesuatu yang istimewa.
Berjingkat pelan ia masuki buku-buku lalat,
“siapa kau?” kata kutu lalat.
“Astaga! Kau kutu?”
“ya, sepertinya memang ilmuwan menamaiku begitu.”
“kau kutu yang tinggal di badan lalat?”
Kutu itu mengernyitkan alisnya.
“sudah kuduga, kemarin saya memakan saudaramu yang bisu.”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar