29 Desember 2008

Putu Wijaya : Luar Biasa!

I. Aduh karya Putu Wijaya (Drama)

Pengarang tidak memerlukan nama pemain dan juga tidak memerlukan kelengkapan latar, dari tokoh yang diberi nama salah seorang, pengarang dapat lebih menghidupkan makna simbolik dan imaji pembaca naskahnya. Munculnya citraan dari masing-masing tokoh membentuk satu jalan cerita yang apik.
Salah seorang : ya, tapi tidak kebetulan, dia sengaja!
Salah seorang : jangan-jangan mau menipu lagi seperti yang sudah-sudah!
Salah seorang : sst, jangan begitu!
Salah seorang : iya. Ayo buat apa memanjakan dia!
Salah seorang : ini’kan orang sakit, kok memanjakan bagaimana?
Salah seorang : bisa jadi dibuat-buat seperti yang sudah-sudah itu!

Petikan dialog tersebut terjadi antara 2 tokoh yang saling bertentangan dalam menghadapai satu hal. Salah seorang yang pertama meyakinkan bahwa orang sakit itu hanya pura-pura. Akan tetapi, salah seorang yang kedua berusaha meyakinkan bahwa orang itu benar-benar sakit. Drama akan menjadi indah jika banyak terjadi permasalahan di dalamnya. Kedua tokoh ini seperti mengulang tragedi yang sudah pernah mereka rasakan. Mereka seakan harus beradu mulut kembali untuk menentukan jalan keluar satu masalah yang sudah pernah dialami. Jika ini merupakan refleksi sifat manusia, dapat dikatakan memang seperti ini. Banyak orang yang suka sekali mempermasalahkan sesuatu yang sudah pernah dialami sebelumnya.
Cerita bergulir dengan pencarian makna bijaksana antar tokoh. Bijaksana menjadi kata atau simbol yang meneguhkan sifat seseorang yang harus menggunakan akal budinya untuk menolong orang lain. Tetapi seiring pengembangan cerita, salah seorang yang lain tetap berusaha meyakinkan bahwa orang itu tidak benar-benar sakit. Dalam adegan inilah refleksi sifat manusia yang sebenarnya ingin menjadi makhluk sosial tetapi terjebak dengan permainan kata orang lain sehingga tertundalah menjadi bijaksana.
Sesudah melewati klimaks cerita, nama-nama yang disematkan tentu saja mempunyai makna yang tidak lepas dari refleksi jiwa manusia. Putu Wijaya tidak memberi nama yang susah untuk dilafalkan. Ia hanya mengambil sifat dari tokoh yang dibangunnya, misalnya tokoh Pemimpin. Seorang pemimpin seharusnya sosok yang disegani, dihormati, dan selalu menjadi yang terdepan dari setiap persoalan kelompoknya. Tetapi pada cerita ini, pengarang berusaha memperlihatkan kritik tajam sifat manusia yang di/me-labeli dirinya pemimpin tetapi tidak mempunyai jiwa kepemimpinan. Tampak dari dialog tokoh pemimpin kepada tokoh yang lain di bawah ini :
Pemimpin : Ayo Saudara-saudara, jangan bermalas-malas. Mari garap! Tanggung jawab di tangan kita. Mulai saat ini pimpinan dan komando ada di tangan saya. Saya di tengah, mari kita garap!
Terdapat juga tokoh Yang Simpati, tokoh yang berusaha menunjukkan rasa simpatinya terhadap orang itu tanpa bisa untuk membantu semaksimal mungkin, Yang Kesurupan, tokoh yang dirasuki roh orang itu (tokoh ini muncul –mungkin- karena pengarang masih memercayai adanya hal-hal tersebut), Pemilik Balsem, tokoh yang memberikan pertolongan dengan media balsam yang dapat meringankan ‘beban’ tokoh-tokoh yang lain, Perintis, tokoh yang memberikan sebuah solusi/sebuah jalan (dalam makana denotasi) tetapi tidak menjadikan permasalahan selesai, Yang Marah, tokoh yang mempunyai sifat pemarah, Yang Iri, tokoh yang mempunyai rasa iri yang tinggi karena tidak bisa melakukan apa-apa selain iri terhadap tokoh lain, Wakil, Salah Satu, Yang Makan, Pengusut, Salah Satu, dan Salah Seorang, yang semuanya itu hanya menjadi nama yang merefleksikan sifat manusia sebenarnya yang kompleks , penuh masalah, dan beragam.

Kunci untuk drama ini adalah Pemimpin. Jika ingin menganalisisnya, (pastikan) jangan lupa untuk mencari literatur tentang pemimpin.

Tidak ada komentar: