III. Roman Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer
Luar biasaaa..!! Ups..he he.. Roman ini benar-benar keren (Lebaaayyy).. tidak usah melihat dulunya Pram tuh siapa dan gimana, tapi nikmati aja sesuatu yang sudah dia tulis.. meskipun masih ada satu pertanyaan dalam diri nca : kenapa Pram mau masuk Lekra? Yup, siapa yang bisa jawab dengan subjektif (atau bahkan objektif.?)
Pemilihan sampul buku yang memperlihatkan seorang wanita Jawa dengan sanggul rapih, berbaju kebaya hijau agak awut-awutan, memakai dua gelang di dua belah tangannya, dan memakai kain dengan rapih, semua itu terusik dengan penggambaran mata yang kosong dan tangan kiri dari perempuan tersebut memegang stagen berwarna oranye. (soal warna, saya tidak akan membahasnya karena saya tentu tidak mempunyai perangkat untuk mengetahui simbol dari warna-warna tersebut) Mata yang kosong memfokuskan diri kepada pembaca bahwa sebuah gelungan sanggul yang rapih dengan kalung yang menghias leher dan anting-anting emas yang terpasang di daun telinga tidak akan membuat seorang perempuan menjadi senang hatinya (hlm.53) malah takut untuk menggunakan dan memunyai emas-emas tersebut.
Pengarang mengangkat tokoh perempuan menjadi seorang perempuan yang mengalami kesedihan nasib yang amat sangat. Di mulai dengan dipersunting dengan (hanya) sebuah keris (hlm.12) sampai harus rela meninggalkan anak yang dilahirkannya dan diusir (diceraikan) oleh Bendoro (hlm. 256). Pram tidak ingin memperlihatkan seorang perempuan yang mempunyai kekuatan fisik dan mental yang melebihi batasnya seorang perempuan, tetapi Pram hanya menyajikan sebuah realitas kekuatan perempuan sebagai seorang manusia yang mempunyai akal dan jiwa.
Gadis Pantai digambarkan baru berumur 14 tahun ketika disunting oleh Bendoro. Dengan memberikan umur yang sedemikian muda, Pram ingin memperlihatkan betapa kebobrokan sistem feodalisme Jawa yang kental dengan kasta (tingkatan kehormatan terhadap sebuah kelompok) yang dapat dengan mudah mempersunting (mengambil) seorang manusia dan dijadikan seorang percobaan.
Pasir di bawah itu terasa lunak dan buyar kena tendangan. Pohon mangga tertanam berderet seperti serdadu, sedang pohon-pohon pisang yang merana berbaris menepi pagar, seperti tahu akan kekecilannya. (hlm. 40)
Pada paragraf itu, Pram memetaforakan seorang Bendoro sebagai pohon mangga dan Gadis Pantai sebagai pohon pisang. Pada metafora inilah, pengarang memperlihatkan bahwa seorang Bendoro yang sangat ditakuti hanyalah sebuah pohon mangga yang besar tetapi tidak mempunyai manfaat sebanyak pohon pisang yang (meskipun) digambarkan merana berbaris tetapi ia dilukiskan mampu mengelilingi pagar yang berarti mampu menjadikan dirinya bermanfaat untuk orang banyak.
Teror yang dirasai Gadis Pantai memang teror takbertuan. Maksudnya adalah pembaca tidak bisa menyalahkan tokoh Bendoro terhadap ketakutan yang dialami Gadis Pantai karena diperlihatkan bahwa Bendoro tidak pernah menyakiti Gadis Pantai. Akan tetapi, yang membuat semua terror ini adalah memang system feodalisme yang menyebabkan Pram dapat mengatakan ada orang atasan dan ada orang kebanyakan. Teror inilah yang tidak terlihat dan tidak tersentuh oleh manusia. Sampai-sampai tokoh Gadis Pantai digambarkan seperti seekor ayam yang direnggut dari rumpunnya (hlm. 46).
Saya setuju dengan pendapat Ignas Kleden, bahwa Pram memperlihatkan kepiawaiannya bergelut dengan perasaan seorang perempuan. Dialog-dialog yang dibangun antara tokoh Pelayan Tua dengan Gadis Pantai mengalir sebagai dialog yang hidup. Gadis Pantai dapat merasakan dirinya sebagai seorang perempuan, seperti pada saat Pelayan Tua menceritakan tentang kakeknya dan Gadis Pantai dengan leluasa memberi komentar sesuai keinginan hatinya (hlm. 57). Sedangkan percakapan antara tokoh Gadis Pantai dengan Bendoro dirasa tidak mempunyai jiwa dialog tersebut, seperti ketika Gadis Pantai mencoba menyerahkan anaknya tetapi dengan penuh penekanan (dan tanpa belas kasihan) Bendoro menyuruhnya untuk menaruh anak itu ke ranjang. Perbedaan perlakuan dialog antara tokoh perempuan dan laki-laki di dalam roman ini seperti ingin memperlihatkan kepada pembaca bahwa Pram sebagai pengarang ingin sekali mencoba memaknai sosok perempuan yang sering atau sudah menjadi korban kefeodalan sosok laki-laki (Bendoro dalam roman ini).
29 Desember 2008
Goenawan Mohamad : Atlas!
II. Puisi Dingin taktercatat karya Goenawan Mohamad
Analisis nca yang satu ini, teoretis banget! He he… entah kenapa nca seneng banget heuristik dan hermeneutik! Suatu kajian yang benar-benar harus menggunakan ketelitian untuk bisa membaca sebuah puisi dengan benar (tapi gak menjadi patokan bahwa analisis nca ini bener..he he. Subjektif adalah kunci analisis, tapi harus juga liat konvensi yang ada, gak asal ajah.)
Dingin tak tercatat
Dingin tak tercatat
pada termometer
Kota hanya basah
Angin sepanjang sungai
mengusir, tapi kita tetap saja
di sana. Seakan-akan
gerimis raib
dan cahaya berenang
mempermainkan warna.
Tuhan, kenapa kita bisa
Bahagia?
1971
I. Pembacaan Heuristik
Dalam pembahasan ini karya sastra dibaca linier, sesuai dengan struktur bahasa sebagai sistem tanda semiotik tingkat pertama. Untuk menjelaskan arti bahasa bilamana perlu susunan kalimat dibalik seperti susunan bahasa secara normatif, diberi tambahan kata sambung (dalam kurung), kata-kata dikembalikan ke dalam bentuk morfologinya yang normatif. Bilamana perlu, kalimat karya sastra diberi sisipan-sisipan kata dan kata sinonimnya, ditaruh dalam tanda kurung supaya artinya menjadi jelas. (Pradopo, 2005 : 269)
(rasa/keadaan) dingin (yang) tak tercatat / pada (alat) termometer// kota hanya (di)basah(i)//(hembusan) angin (di) sepanjang sungai/ (seperti) mengusir, tapi kita tetap saja (berada) di sana. Seakan-akan / gerimis (yang telah) raib / dan (seperti) cahaya (yang) berenang // mempermainkan warna (-warna) // Tuhan, kenapa kita (manusia) bisa (merasakan) bahagia ?//
II. Pembacaan Retroaktif Atau Hermeneutik
Pembacaan heuristik itu baru memperjelas arti kebahasaannya, tetapi makna karya sastra atau sajak itu belum tertangkap. Oleh karena itu, pembacaan heuristik harus diulang lagi dengan pembacaan retroaktif dan diberi tafsiran (dibaca secara hermeneutik) sesuai dengan konvensi sastra sebagai sistem semiotik tingkat kedua, sebagai berikut,
Judul ”dingin tak tercatat” adalah tanda bagi suatu keadaan yang tidak dapat dicatat atau dihitung.
”Dingin tak tercatat pada termometer” menjadi metafora bagi suatu keadaan yang tidak bisa diukur. ”Kota hanya basah” menjadi metafora lanjutan yang berarti tempat yang menjadi pusat suatu daerah, di dalam puisi ini dapat dimaknai mata yang mengeluarkan air mata (kota hanya basah). Dengan bantuan (Angin) air mata itu bisa dihapuskan (sepanjang sungai mengusir), tetapi ada keengganan dari pelaku/tokoh untuk keluar dari masalah yang membuat air mata tersebut (tetapi kita tetap saja di sana). Kalimat tersebut dianalogikan dengan air mata yang lama-lama mengering (gerimis raib) dan berganti dengan kesenangan dengan permasalahan yang ada (dan cahaya berenang mempermainkan warna). Lalu, diakhiri dengan pertanyaan kepada Sang Pencipta (Tuhan) tentang kebijakannya memberi rasa bahagia sebagai metafora dari kesenangan orang (kenapa kita bisa bahagia?).
Dapat disimpulkan melalui pendekatan heuristik dan dilanjutkan dengan pembacaan hemeneutik bahwa puisi Goenawan Mohamad yang ditulisnya pada tahun 1971 ini adalah puisi yang mempertanyakan tentang kebahagiaan yang lebih disenangi manusia. Goenawan memulainya dengan diksi ”dingin” yaitu keadaan bersuhu rendah dibandingkan dengan suhu tubuh manusia : butuh sesuatu untuk menstabilkan rasa dingin tersebut, dengan memetaforakan bahwa keadaan tersebut tidak dapat diukur menggunakan alat : hanya dapat dirasakan saja. Klimaks dari puisi ini yaitu mempertanyakan pada Sang Pencipta kebahagiaan tersebut. Goenawan Mohamad hendak memperlihatkan bahwa tidak ada salahnya lebih dekat dengan air mata dan bermain dengan air mata tersebut yang tidak kalah mengasyikkan dengan kebahagiaan meninggalkan air mata itu sendiri.
Analisis nca yang satu ini, teoretis banget! He he… entah kenapa nca seneng banget heuristik dan hermeneutik! Suatu kajian yang benar-benar harus menggunakan ketelitian untuk bisa membaca sebuah puisi dengan benar (tapi gak menjadi patokan bahwa analisis nca ini bener..he he. Subjektif adalah kunci analisis, tapi harus juga liat konvensi yang ada, gak asal ajah.)
Dingin tak tercatat
Dingin tak tercatat
pada termometer
Kota hanya basah
Angin sepanjang sungai
mengusir, tapi kita tetap saja
di sana. Seakan-akan
gerimis raib
dan cahaya berenang
mempermainkan warna.
Tuhan, kenapa kita bisa
Bahagia?
1971
I. Pembacaan Heuristik
Dalam pembahasan ini karya sastra dibaca linier, sesuai dengan struktur bahasa sebagai sistem tanda semiotik tingkat pertama. Untuk menjelaskan arti bahasa bilamana perlu susunan kalimat dibalik seperti susunan bahasa secara normatif, diberi tambahan kata sambung (dalam kurung), kata-kata dikembalikan ke dalam bentuk morfologinya yang normatif. Bilamana perlu, kalimat karya sastra diberi sisipan-sisipan kata dan kata sinonimnya, ditaruh dalam tanda kurung supaya artinya menjadi jelas. (Pradopo, 2005 : 269)
(rasa/keadaan) dingin (yang) tak tercatat / pada (alat) termometer// kota hanya (di)basah(i)//(hembusan) angin (di) sepanjang sungai/ (seperti) mengusir, tapi kita tetap saja (berada) di sana. Seakan-akan / gerimis (yang telah) raib / dan (seperti) cahaya (yang) berenang // mempermainkan warna (-warna) // Tuhan, kenapa kita (manusia) bisa (merasakan) bahagia ?//
II. Pembacaan Retroaktif Atau Hermeneutik
Pembacaan heuristik itu baru memperjelas arti kebahasaannya, tetapi makna karya sastra atau sajak itu belum tertangkap. Oleh karena itu, pembacaan heuristik harus diulang lagi dengan pembacaan retroaktif dan diberi tafsiran (dibaca secara hermeneutik) sesuai dengan konvensi sastra sebagai sistem semiotik tingkat kedua, sebagai berikut,
Judul ”dingin tak tercatat” adalah tanda bagi suatu keadaan yang tidak dapat dicatat atau dihitung.
”Dingin tak tercatat pada termometer” menjadi metafora bagi suatu keadaan yang tidak bisa diukur. ”Kota hanya basah” menjadi metafora lanjutan yang berarti tempat yang menjadi pusat suatu daerah, di dalam puisi ini dapat dimaknai mata yang mengeluarkan air mata (kota hanya basah). Dengan bantuan (Angin) air mata itu bisa dihapuskan (sepanjang sungai mengusir), tetapi ada keengganan dari pelaku/tokoh untuk keluar dari masalah yang membuat air mata tersebut (tetapi kita tetap saja di sana). Kalimat tersebut dianalogikan dengan air mata yang lama-lama mengering (gerimis raib) dan berganti dengan kesenangan dengan permasalahan yang ada (dan cahaya berenang mempermainkan warna). Lalu, diakhiri dengan pertanyaan kepada Sang Pencipta (Tuhan) tentang kebijakannya memberi rasa bahagia sebagai metafora dari kesenangan orang (kenapa kita bisa bahagia?).
Dapat disimpulkan melalui pendekatan heuristik dan dilanjutkan dengan pembacaan hemeneutik bahwa puisi Goenawan Mohamad yang ditulisnya pada tahun 1971 ini adalah puisi yang mempertanyakan tentang kebahagiaan yang lebih disenangi manusia. Goenawan memulainya dengan diksi ”dingin” yaitu keadaan bersuhu rendah dibandingkan dengan suhu tubuh manusia : butuh sesuatu untuk menstabilkan rasa dingin tersebut, dengan memetaforakan bahwa keadaan tersebut tidak dapat diukur menggunakan alat : hanya dapat dirasakan saja. Klimaks dari puisi ini yaitu mempertanyakan pada Sang Pencipta kebahagiaan tersebut. Goenawan Mohamad hendak memperlihatkan bahwa tidak ada salahnya lebih dekat dengan air mata dan bermain dengan air mata tersebut yang tidak kalah mengasyikkan dengan kebahagiaan meninggalkan air mata itu sendiri.
Putu Wijaya : Luar Biasa!
I. Aduh karya Putu Wijaya (Drama)
Pengarang tidak memerlukan nama pemain dan juga tidak memerlukan kelengkapan latar, dari tokoh yang diberi nama salah seorang, pengarang dapat lebih menghidupkan makna simbolik dan imaji pembaca naskahnya. Munculnya citraan dari masing-masing tokoh membentuk satu jalan cerita yang apik.
Salah seorang : ya, tapi tidak kebetulan, dia sengaja!
Salah seorang : jangan-jangan mau menipu lagi seperti yang sudah-sudah!
Salah seorang : sst, jangan begitu!
Salah seorang : iya. Ayo buat apa memanjakan dia!
Salah seorang : ini’kan orang sakit, kok memanjakan bagaimana?
Salah seorang : bisa jadi dibuat-buat seperti yang sudah-sudah itu!
Petikan dialog tersebut terjadi antara 2 tokoh yang saling bertentangan dalam menghadapai satu hal. Salah seorang yang pertama meyakinkan bahwa orang sakit itu hanya pura-pura. Akan tetapi, salah seorang yang kedua berusaha meyakinkan bahwa orang itu benar-benar sakit. Drama akan menjadi indah jika banyak terjadi permasalahan di dalamnya. Kedua tokoh ini seperti mengulang tragedi yang sudah pernah mereka rasakan. Mereka seakan harus beradu mulut kembali untuk menentukan jalan keluar satu masalah yang sudah pernah dialami. Jika ini merupakan refleksi sifat manusia, dapat dikatakan memang seperti ini. Banyak orang yang suka sekali mempermasalahkan sesuatu yang sudah pernah dialami sebelumnya.
Cerita bergulir dengan pencarian makna bijaksana antar tokoh. Bijaksana menjadi kata atau simbol yang meneguhkan sifat seseorang yang harus menggunakan akal budinya untuk menolong orang lain. Tetapi seiring pengembangan cerita, salah seorang yang lain tetap berusaha meyakinkan bahwa orang itu tidak benar-benar sakit. Dalam adegan inilah refleksi sifat manusia yang sebenarnya ingin menjadi makhluk sosial tetapi terjebak dengan permainan kata orang lain sehingga tertundalah menjadi bijaksana.
Sesudah melewati klimaks cerita, nama-nama yang disematkan tentu saja mempunyai makna yang tidak lepas dari refleksi jiwa manusia. Putu Wijaya tidak memberi nama yang susah untuk dilafalkan. Ia hanya mengambil sifat dari tokoh yang dibangunnya, misalnya tokoh Pemimpin. Seorang pemimpin seharusnya sosok yang disegani, dihormati, dan selalu menjadi yang terdepan dari setiap persoalan kelompoknya. Tetapi pada cerita ini, pengarang berusaha memperlihatkan kritik tajam sifat manusia yang di/me-labeli dirinya pemimpin tetapi tidak mempunyai jiwa kepemimpinan. Tampak dari dialog tokoh pemimpin kepada tokoh yang lain di bawah ini :
Pemimpin : Ayo Saudara-saudara, jangan bermalas-malas. Mari garap! Tanggung jawab di tangan kita. Mulai saat ini pimpinan dan komando ada di tangan saya. Saya di tengah, mari kita garap!
Terdapat juga tokoh Yang Simpati, tokoh yang berusaha menunjukkan rasa simpatinya terhadap orang itu tanpa bisa untuk membantu semaksimal mungkin, Yang Kesurupan, tokoh yang dirasuki roh orang itu (tokoh ini muncul –mungkin- karena pengarang masih memercayai adanya hal-hal tersebut), Pemilik Balsem, tokoh yang memberikan pertolongan dengan media balsam yang dapat meringankan ‘beban’ tokoh-tokoh yang lain, Perintis, tokoh yang memberikan sebuah solusi/sebuah jalan (dalam makana denotasi) tetapi tidak menjadikan permasalahan selesai, Yang Marah, tokoh yang mempunyai sifat pemarah, Yang Iri, tokoh yang mempunyai rasa iri yang tinggi karena tidak bisa melakukan apa-apa selain iri terhadap tokoh lain, Wakil, Salah Satu, Yang Makan, Pengusut, Salah Satu, dan Salah Seorang, yang semuanya itu hanya menjadi nama yang merefleksikan sifat manusia sebenarnya yang kompleks , penuh masalah, dan beragam.
Kunci untuk drama ini adalah Pemimpin. Jika ingin menganalisisnya, (pastikan) jangan lupa untuk mencari literatur tentang pemimpin.
Pengarang tidak memerlukan nama pemain dan juga tidak memerlukan kelengkapan latar, dari tokoh yang diberi nama salah seorang, pengarang dapat lebih menghidupkan makna simbolik dan imaji pembaca naskahnya. Munculnya citraan dari masing-masing tokoh membentuk satu jalan cerita yang apik.
Salah seorang : ya, tapi tidak kebetulan, dia sengaja!
Salah seorang : jangan-jangan mau menipu lagi seperti yang sudah-sudah!
Salah seorang : sst, jangan begitu!
Salah seorang : iya. Ayo buat apa memanjakan dia!
Salah seorang : ini’kan orang sakit, kok memanjakan bagaimana?
Salah seorang : bisa jadi dibuat-buat seperti yang sudah-sudah itu!
Petikan dialog tersebut terjadi antara 2 tokoh yang saling bertentangan dalam menghadapai satu hal. Salah seorang yang pertama meyakinkan bahwa orang sakit itu hanya pura-pura. Akan tetapi, salah seorang yang kedua berusaha meyakinkan bahwa orang itu benar-benar sakit. Drama akan menjadi indah jika banyak terjadi permasalahan di dalamnya. Kedua tokoh ini seperti mengulang tragedi yang sudah pernah mereka rasakan. Mereka seakan harus beradu mulut kembali untuk menentukan jalan keluar satu masalah yang sudah pernah dialami. Jika ini merupakan refleksi sifat manusia, dapat dikatakan memang seperti ini. Banyak orang yang suka sekali mempermasalahkan sesuatu yang sudah pernah dialami sebelumnya.
Cerita bergulir dengan pencarian makna bijaksana antar tokoh. Bijaksana menjadi kata atau simbol yang meneguhkan sifat seseorang yang harus menggunakan akal budinya untuk menolong orang lain. Tetapi seiring pengembangan cerita, salah seorang yang lain tetap berusaha meyakinkan bahwa orang itu tidak benar-benar sakit. Dalam adegan inilah refleksi sifat manusia yang sebenarnya ingin menjadi makhluk sosial tetapi terjebak dengan permainan kata orang lain sehingga tertundalah menjadi bijaksana.
Sesudah melewati klimaks cerita, nama-nama yang disematkan tentu saja mempunyai makna yang tidak lepas dari refleksi jiwa manusia. Putu Wijaya tidak memberi nama yang susah untuk dilafalkan. Ia hanya mengambil sifat dari tokoh yang dibangunnya, misalnya tokoh Pemimpin. Seorang pemimpin seharusnya sosok yang disegani, dihormati, dan selalu menjadi yang terdepan dari setiap persoalan kelompoknya. Tetapi pada cerita ini, pengarang berusaha memperlihatkan kritik tajam sifat manusia yang di/me-labeli dirinya pemimpin tetapi tidak mempunyai jiwa kepemimpinan. Tampak dari dialog tokoh pemimpin kepada tokoh yang lain di bawah ini :
Pemimpin : Ayo Saudara-saudara, jangan bermalas-malas. Mari garap! Tanggung jawab di tangan kita. Mulai saat ini pimpinan dan komando ada di tangan saya. Saya di tengah, mari kita garap!
Terdapat juga tokoh Yang Simpati, tokoh yang berusaha menunjukkan rasa simpatinya terhadap orang itu tanpa bisa untuk membantu semaksimal mungkin, Yang Kesurupan, tokoh yang dirasuki roh orang itu (tokoh ini muncul –mungkin- karena pengarang masih memercayai adanya hal-hal tersebut), Pemilik Balsem, tokoh yang memberikan pertolongan dengan media balsam yang dapat meringankan ‘beban’ tokoh-tokoh yang lain, Perintis, tokoh yang memberikan sebuah solusi/sebuah jalan (dalam makana denotasi) tetapi tidak menjadikan permasalahan selesai, Yang Marah, tokoh yang mempunyai sifat pemarah, Yang Iri, tokoh yang mempunyai rasa iri yang tinggi karena tidak bisa melakukan apa-apa selain iri terhadap tokoh lain, Wakil, Salah Satu, Yang Makan, Pengusut, Salah Satu, dan Salah Seorang, yang semuanya itu hanya menjadi nama yang merefleksikan sifat manusia sebenarnya yang kompleks , penuh masalah, dan beragam.
Kunci untuk drama ini adalah Pemimpin. Jika ingin menganalisisnya, (pastikan) jangan lupa untuk mencari literatur tentang pemimpin.
tiga tugas?
Pada semester VII ini, nca harus bergulat dengan puisi, cerpen, novel, bahkan drama. Semuanya dibahas pada mata kuliah kapita selekta karya utama. Huff..tugas yang berat ketika nca sedang berada dalam titik kejenuhan (ingin tidak membaca apapun) tetapi Alhamdulillah semua sudah selesai dikerjakan meskipun masih banyak kelonggaran yang salah (he he..) di dalam tugas-tugas nca ini. Nca memasukkan tulisan yang menurut nca dapat dipakai sebagai contoh analisis (menurut nca, he he..) tidak peduli tulisan ini berguna atau tidak : selamat menikmati..
21 Desember 2008
sesuatu yg sulit
Tidak usah
kesan ini akan mengalir jauh melebihi batas nalarmu, sayang.
Kau bagai dilumat makna.
Takjarang pula kau mengaduh untuk memberi efek jenuh pada takdirmu.
Saya
mencoba membumbui arti takdir kita dengan baluran kata.
Jadi
Kau
juga harus menghormati setiap sayatan itu satu-persatu
Saya takmenyangka kau begitu gundah mempertahankan semua.
Bermula dengan isapan jari sampai kau harus benar-benar menguliknya.
Saya bodoh. Mempertajam sayat dengan lidah.
Tapi kau lebih bodoh! Mempermainkan lidah itu dengan kepak angsa..
22-08
Sendiri
Awalnya bola api itu tidak menggelinding mesra,
Ia hanya berjalan tertatih dengan semangat memakan manusia
Seluruhnya.
Awalnya, perjalanan tertatih itu mengobarkan mesra dalam tumbuk hatinya.
Ia mrmikirkan cara yang lebih suram dari segala.
Musnahkan.
Akhirnya, ia tahu semua percuma.
Karena
Sendiri.
22-08
3.
Redup nelangsa peri hati
Tak ikut marak disampai berang
Ketika bangga ada di sanubari
Tak pelak pasti dinanti orang
22-08
Bantuan
”jangan perkosa saya, Tuan.”
Wanita itu cukup gagah dengan baluran bingkai berwarna jingga
”saya takpeduli. Saya bukan Tuanmu.”
”jangan hina saya, Tuan.”
Seketika itu saya jambak lidahnya dengan pisau yang terhunus.
”saya bukan Tuanmu. Mintalah pada Tuhanmu.”
Wanita itu berkomat-kamit entah, mungkin melagukan sepiring nasehat untuk Tuhan.
Ia butuh bantuan.
22-08
kesan ini akan mengalir jauh melebihi batas nalarmu, sayang.
Kau bagai dilumat makna.
Takjarang pula kau mengaduh untuk memberi efek jenuh pada takdirmu.
Saya
mencoba membumbui arti takdir kita dengan baluran kata.
Jadi
Kau
juga harus menghormati setiap sayatan itu satu-persatu
Saya takmenyangka kau begitu gundah mempertahankan semua.
Bermula dengan isapan jari sampai kau harus benar-benar menguliknya.
Saya bodoh. Mempertajam sayat dengan lidah.
Tapi kau lebih bodoh! Mempermainkan lidah itu dengan kepak angsa..
22-08
Sendiri
Awalnya bola api itu tidak menggelinding mesra,
Ia hanya berjalan tertatih dengan semangat memakan manusia
Seluruhnya.
Awalnya, perjalanan tertatih itu mengobarkan mesra dalam tumbuk hatinya.
Ia mrmikirkan cara yang lebih suram dari segala.
Musnahkan.
Akhirnya, ia tahu semua percuma.
Karena
Sendiri.
22-08
3.
Redup nelangsa peri hati
Tak ikut marak disampai berang
Ketika bangga ada di sanubari
Tak pelak pasti dinanti orang
22-08
Bantuan
”jangan perkosa saya, Tuan.”
Wanita itu cukup gagah dengan baluran bingkai berwarna jingga
”saya takpeduli. Saya bukan Tuanmu.”
”jangan hina saya, Tuan.”
Seketika itu saya jambak lidahnya dengan pisau yang terhunus.
”saya bukan Tuanmu. Mintalah pada Tuhanmu.”
Wanita itu berkomat-kamit entah, mungkin melagukan sepiring nasehat untuk Tuhan.
Ia butuh bantuan.
22-08
18 Desember 2008
komentar..
Pak Hamid..
adalah dosen saya..
saya bilang dia mirip dengan bapak saya, mukannya aja..kalo postur bdan jauh berbeda..
dia sering banget saya minta untuk mengomentari puisi saya..
jawabannya langsung..aka to the point, tapi membangun saya untuk terus tertatih menulis,.
dia bisa menebak sedang kenapa saya saat suatu puisi dibuat..
pokoknya..
terima kasih Pak,u're amazing..
adalah dosen saya..
saya bilang dia mirip dengan bapak saya, mukannya aja..kalo postur bdan jauh berbeda..
dia sering banget saya minta untuk mengomentari puisi saya..
jawabannya langsung..aka to the point, tapi membangun saya untuk terus tertatih menulis,.
dia bisa menebak sedang kenapa saya saat suatu puisi dibuat..
pokoknya..
terima kasih Pak,u're amazing..
kembali berpuisi
1. Takut
Saya merasa awam
Kota selalu bingar
Hidup makin lebar
Saya mati diterkam jahanam
Kota ini racun,
malaikat
Pencabut nyawa. Tinggalkanlah!
14-08
2. Kado Terindah
Kotak merah pertanda cinta darimu
Telah aku buang ke tong maksiat
14-08
3. Relawan
Saya jalan tertatih
Menyusuri ruas bambu yang menjalang
Saya tetap jalan
Saya tetap hirup
Saya tetap tertatih
Saya berhasil gagal?
Akh, kau pasti bercanda.
14-08
4. Senyum
Wanita berseragam putih berbaris
Tiga orang tanggal di depan meja
Wanita berseragam putih maju
Menit berlalu
Detik berlalu
Wanita berseragam putih maju
Tahun berlalu
Bulan berlalu
Seragam putih mulai layu,
kuning
Ditinggal tiga orang yang tanggal
14-08
5. Satu per satu
Rinai dan derik melaju satu per satu
Hujan lebih dulu
Derik ikut berlalu
bersamanya
dengan langkah tergegap, rinai mencuri
Derik melampaui senyumnya
Mereka melaju satu per satu melawan sendiri
Sendiri dan kesendirian.
14-08
6. Bangkit
Biru adalah santun dari segala kehidupan
Biru adalah noda baik dari segala ketertindasan
Biru
Rona
Biru
Noda
Biru adalah bangkit dari kemurakan
Biru adalah noda dari separuh Rahwana.
14-08
7. ABC
adalah omong kosong
adalah kebualan
adalah kebaikan yang tersekap
14-08
8. Khatulistiwa
Pandang bukit yang melebar dari arah depan
14-08
9. Satu
Bhineka tidak dilihat dari sisi mendekat
Bhineka hanya lihat kejauhan
Sayat tajam pergaulan membuat rintih kegalauan
Bungah senjata mempermainkan asa kita,
Saudara.
Apa kau taktertantang?
14-08
10. Keanehan
Kata membongkar kata
Kata mengekang kata
Akh, saya takpeduli dengan nasib makna.
14-08
Saya merasa awam
Kota selalu bingar
Hidup makin lebar
Saya mati diterkam jahanam
Kota ini racun,
malaikat
Pencabut nyawa. Tinggalkanlah!
14-08
2. Kado Terindah
Kotak merah pertanda cinta darimu
Telah aku buang ke tong maksiat
14-08
3. Relawan
Saya jalan tertatih
Menyusuri ruas bambu yang menjalang
Saya tetap jalan
Saya tetap hirup
Saya tetap tertatih
Saya berhasil gagal?
Akh, kau pasti bercanda.
14-08
4. Senyum
Wanita berseragam putih berbaris
Tiga orang tanggal di depan meja
Wanita berseragam putih maju
Menit berlalu
Detik berlalu
Wanita berseragam putih maju
Tahun berlalu
Bulan berlalu
Seragam putih mulai layu,
kuning
Ditinggal tiga orang yang tanggal
14-08
5. Satu per satu
Rinai dan derik melaju satu per satu
Hujan lebih dulu
Derik ikut berlalu
bersamanya
dengan langkah tergegap, rinai mencuri
Derik melampaui senyumnya
Mereka melaju satu per satu melawan sendiri
Sendiri dan kesendirian.
14-08
6. Bangkit
Biru adalah santun dari segala kehidupan
Biru adalah noda baik dari segala ketertindasan
Biru
Rona
Biru
Noda
Biru adalah bangkit dari kemurakan
Biru adalah noda dari separuh Rahwana.
14-08
7. ABC
adalah omong kosong
adalah kebualan
adalah kebaikan yang tersekap
14-08
8. Khatulistiwa
Pandang bukit yang melebar dari arah depan
14-08
9. Satu
Bhineka tidak dilihat dari sisi mendekat
Bhineka hanya lihat kejauhan
Sayat tajam pergaulan membuat rintih kegalauan
Bungah senjata mempermainkan asa kita,
Saudara.
Apa kau taktertantang?
14-08
10. Keanehan
Kata membongkar kata
Kata mengekang kata
Akh, saya takpeduli dengan nasib makna.
14-08
13 Desember 2008
sedang berkalut
IV.
Sebut saja saya Jamilah
Ya saya senang-senang saja
Sebut saja saya Jadah
Ya saya senang-senang saja
Tapi, saya lebih senang dipanggil hibah
Ya, saya mengaku saja.
Kucing
Saya bermimpi sayang,
Kamu mati diterkam kucing kesayanganmu
Iya, yang kamu beri nama semesta
Akh..
Sudah saya bilang saya takmenyukai kamu memelihara kucing
Kamu tahu sayang?
Mimpi itu datang setahap demi setahap
Pertama
Kucing itu minta persetujuan saya untuk membunuh kamu
Kedua
Kucing itu datang meminta benda yang bisa membunuh kamu
Ketiga
Kucing itu telah mengantarkan lidahmu ke rumahku
Aduh, istriku..
Mengapa kau masih saja mau memelihara kucing itu
Kurangkah saya bercerita fragmen mimpi itu?
Saya hanya takut mimpi itu jadi nyata
Dan saya takut mengijinkan kucing itu membunuhmu menggunakan kata dan terhantar lidah di rumah kita.
P31-2008
VI.
Jangan kau coba(-coba) mencongkakkan diri depan aku.
Kau hanya sebutir larva yang memanjang dari orang lain,
Kau sebut apa orang itu?
Ayo! Jangan diam. Aku bertanya,
bukan menunggu kau berfikir.
Buat apa sebenarnya orang itu hinggap di kelu bukumu,
Cih!
Aku tahu kau mengerti.
VII.
“jangan membuang sampah berlebihan, bunda.”
Saya tahu sampah itu hanya akan membuat rumah kita semakin kotor,
Ini sudah kotor, bunda.
“biarkan, biarkan rumah ini semakin kotor dengan sampah yang baik.”
Aku tidak mengerti.
Itu sampah, bunda. Tidak cocok dibuang di rumah,
Buanglah seperlunya.
Kau keterlaluan, Bunda.
Kau buang di tempat tidurku. Di spreiku. Di bantalku.
Bahkan di baju mandiku.
Cobalah Tuhan, beritahu Bundaku yang keras kepala ini,
Bahwa sampah tidak cocok dibuang di rumah.
VIII.
Makhluk kecil itu makan di sekitar badan lalat.
Temannya meneriakkan bahwa ada yang lebih enak di bulu kucing.
Makhluk kecil itu takberanjak, ia lebih senang dengan badan lalat.
Ada sesuatu yang istimewa.
Berjingkat pelan ia masuki buku-buku lalat,
“siapa kau?” kata kutu lalat.
“Astaga! Kau kutu?”
“ya, sepertinya memang ilmuwan menamaiku begitu.”
“kau kutu yang tinggal di badan lalat?”
Kutu itu mengernyitkan alisnya.
“sudah kuduga, kemarin saya memakan saudaramu yang bisu.”
Sebut saja saya Jamilah
Ya saya senang-senang saja
Sebut saja saya Jadah
Ya saya senang-senang saja
Tapi, saya lebih senang dipanggil hibah
Ya, saya mengaku saja.
Kucing
Saya bermimpi sayang,
Kamu mati diterkam kucing kesayanganmu
Iya, yang kamu beri nama semesta
Akh..
Sudah saya bilang saya takmenyukai kamu memelihara kucing
Kamu tahu sayang?
Mimpi itu datang setahap demi setahap
Pertama
Kucing itu minta persetujuan saya untuk membunuh kamu
Kedua
Kucing itu datang meminta benda yang bisa membunuh kamu
Ketiga
Kucing itu telah mengantarkan lidahmu ke rumahku
Aduh, istriku..
Mengapa kau masih saja mau memelihara kucing itu
Kurangkah saya bercerita fragmen mimpi itu?
Saya hanya takut mimpi itu jadi nyata
Dan saya takut mengijinkan kucing itu membunuhmu menggunakan kata dan terhantar lidah di rumah kita.
P31-2008
VI.
Jangan kau coba(-coba) mencongkakkan diri depan aku.
Kau hanya sebutir larva yang memanjang dari orang lain,
Kau sebut apa orang itu?
Ayo! Jangan diam. Aku bertanya,
bukan menunggu kau berfikir.
Buat apa sebenarnya orang itu hinggap di kelu bukumu,
Cih!
Aku tahu kau mengerti.
VII.
“jangan membuang sampah berlebihan, bunda.”
Saya tahu sampah itu hanya akan membuat rumah kita semakin kotor,
Ini sudah kotor, bunda.
“biarkan, biarkan rumah ini semakin kotor dengan sampah yang baik.”
Aku tidak mengerti.
Itu sampah, bunda. Tidak cocok dibuang di rumah,
Buanglah seperlunya.
Kau keterlaluan, Bunda.
Kau buang di tempat tidurku. Di spreiku. Di bantalku.
Bahkan di baju mandiku.
Cobalah Tuhan, beritahu Bundaku yang keras kepala ini,
Bahwa sampah tidak cocok dibuang di rumah.
VIII.
Makhluk kecil itu makan di sekitar badan lalat.
Temannya meneriakkan bahwa ada yang lebih enak di bulu kucing.
Makhluk kecil itu takberanjak, ia lebih senang dengan badan lalat.
Ada sesuatu yang istimewa.
Berjingkat pelan ia masuki buku-buku lalat,
“siapa kau?” kata kutu lalat.
“Astaga! Kau kutu?”
“ya, sepertinya memang ilmuwan menamaiku begitu.”
“kau kutu yang tinggal di badan lalat?”
Kutu itu mengernyitkan alisnya.
“sudah kuduga, kemarin saya memakan saudaramu yang bisu.”
mati suri
Mati Suri
Orang-orang di pasar sedang geger
Penjual sayur dimakan kucing gila!
Penjual bakmi ayam diseruduk kucing hamil!
Penjual gorengan diganyang kucing rabies!
Pedagang buah dicekoki kucing waria!
Koran-koran sempat bingung membuat headline
Tulisan para wartawan ditahan editor
Mereka takmau dunia ikut campur persoalan kucing taktahu diri ini
Editor memutar otak
Dan menemukan judul yang tepat
Biar negara asing takikut membaur
Penjual dan pedagang di pasar sedang mati suri.
P31-2008
Orang-orang di pasar sedang geger
Penjual sayur dimakan kucing gila!
Penjual bakmi ayam diseruduk kucing hamil!
Penjual gorengan diganyang kucing rabies!
Pedagang buah dicekoki kucing waria!
Koran-koran sempat bingung membuat headline
Tulisan para wartawan ditahan editor
Mereka takmau dunia ikut campur persoalan kucing taktahu diri ini
Editor memutar otak
Dan menemukan judul yang tepat
Biar negara asing takikut membaur
Penjual dan pedagang di pasar sedang mati suri.
P31-2008
puisi lagi..
II.
: soetardji
”cuah” kata saya
”puah” mantramu
”cuah” apa peduli saya
”puah” tetap jawabmu
”cuah” kau jangan main-main
”puah” kendalimu
“cuah” ah kau membuatku seperti letang
“puah” ha ha
“cuah” jangan!
“puah” ha ha
“cuah” sebut saja seperti itu
“puah”
P31- 2008
Semesta
“bunga itu sayang, jangan kau paksa dia mekar,” Kataku
“aku harus memaksanya. Jangan paksa aku untuk takmemaksanya,”katamu
“bunga itu, sayang, bagaikan kilau mentari yang takbisa dibiarkan terik di malam hari,”kataku
“aku takpunya pilihan selain memaksanya. Jangan berangan untuk memaksaku tidak melakukannya,”katamu
“jangan risau, sayang. Pulihkan ingatanmu pada semesta. Jangan lumpuhkan nadimu buat semesta merah,”kataku
“bunga itu, sayang. Ia takkan mau mekar tanpa paksa dan gelora,”katamu
“bunga itu, sayang. Sayang jika kau menaruhnya pada jangkar yang perlu air untuk hidup,”kataku
“baiklah, sayang. Mungkin kompromi ini akan memandikan kita dalam satu seruan : cabut saja akarnya,”katamu.
P31 - 2008
III.
Sajak itu congkak
Membiarkan diri berlari
Bunuh diri penyairnya takmembuat ia gentar.
Sajak itu congkak
Membuat penyairnya memikir pulir-pulir dari waktu yang taksengaja
Sajak itu congkak
Membayar murninya otak yang tak punya muara dengan dendam
sunyi
Roda maya bergetar
“halo, dengan siapa?”
Hari ini kotak sengsara
Besok dari hari ini kotak gembira
Roda dunia bergelepar
“saya, semesta.”
Klik.
P31 – 2008
: soetardji
”cuah” kata saya
”puah” mantramu
”cuah” apa peduli saya
”puah” tetap jawabmu
”cuah” kau jangan main-main
”puah” kendalimu
“cuah” ah kau membuatku seperti letang
“puah” ha ha
“cuah” jangan!
“puah” ha ha
“cuah” sebut saja seperti itu
“puah”
P31- 2008
Semesta
“bunga itu sayang, jangan kau paksa dia mekar,” Kataku
“aku harus memaksanya. Jangan paksa aku untuk takmemaksanya,”katamu
“bunga itu, sayang, bagaikan kilau mentari yang takbisa dibiarkan terik di malam hari,”kataku
“aku takpunya pilihan selain memaksanya. Jangan berangan untuk memaksaku tidak melakukannya,”katamu
“jangan risau, sayang. Pulihkan ingatanmu pada semesta. Jangan lumpuhkan nadimu buat semesta merah,”kataku
“bunga itu, sayang. Ia takkan mau mekar tanpa paksa dan gelora,”katamu
“bunga itu, sayang. Sayang jika kau menaruhnya pada jangkar yang perlu air untuk hidup,”kataku
“baiklah, sayang. Mungkin kompromi ini akan memandikan kita dalam satu seruan : cabut saja akarnya,”katamu.
P31 - 2008
III.
Sajak itu congkak
Membiarkan diri berlari
Bunuh diri penyairnya takmembuat ia gentar.
Sajak itu congkak
Membuat penyairnya memikir pulir-pulir dari waktu yang taksengaja
Sajak itu congkak
Membayar murninya otak yang tak punya muara dengan dendam
sunyi
Roda maya bergetar
“halo, dengan siapa?”
Hari ini kotak sengsara
Besok dari hari ini kotak gembira
Roda dunia bergelepar
“saya, semesta.”
Klik.
P31 – 2008
04 Desember 2008
menjelma puisi
ITU
Buah itu menjadikanku termangu
Begitu kebapakan
Tidaklah aneh kalau buah itu dapat
Meramu, menjelma, dan menyatu
Buah itu mati
Jika bumi oval
makam buah kebapakan itu haruslah
Menindih bumi
Bumi kemudian menyerang
Buah itu disergap dalam tanah yang datar
Lalu diolahnya menjadi lubang
Yang sebenarnya takperlu olahan
Lubang itu sekarang hinggap di mataku
Dan berkata
”tolong, hapus daya dari bumi yang bulat ini.”
P31-2008
Buah itu menjadikanku termangu
Begitu kebapakan
Tidaklah aneh kalau buah itu dapat
Meramu, menjelma, dan menyatu
Buah itu mati
Jika bumi oval
makam buah kebapakan itu haruslah
Menindih bumi
Bumi kemudian menyerang
Buah itu disergap dalam tanah yang datar
Lalu diolahnya menjadi lubang
Yang sebenarnya takperlu olahan
Lubang itu sekarang hinggap di mataku
Dan berkata
”tolong, hapus daya dari bumi yang bulat ini.”
P31-2008
26 Oktober 2008
hari kesekian..
kata dosen 1 : biasanya mahasiswa yang banyak baca buku akan terlihat dari setiap ucapannya..menurut si ini,menurut si itu..
kata dosen 2 : tapi kalo mahasiswa tidak banyak baca..mau jadi apa..?
huff!!
takdisangka sekolah itu membuatku bisu telinga..
kata dosen 3 : bukankah sekolah itu untuk cari masalah? coba saja, buku yang diam saja dipermasalahkan 'kan?
argh!!
apa maunya saya di dunia ini..
saya takpernah mempertanyakan adanya Tuhan..
saya juga takpernah menggugat AlQuran..
tapi mengapa semua seperti membara dalam penat dunia..
ntah saya yang hanya sendirian dalam penat
atau ada orang lain atau makhluk Tuhan yang lain sedang merintih sayang dalam genggaman dunia..
ini hanya uneg-uneg (kata anak gaul)
tapi saya memang terkatakan -bahwa- antiklimaks menjadi modal hidup..
hidup siapa?
siapa saja, yang pasti termasuk saya
kata dosen 4 : lebih baik tidak membaca banyak buku teori..karena pasti kamu bisa berpendapat secara jernih dan tidak terkooptasi dengan teori-teori tersebut
Wah!!
lebih hebat lagi kali ini dosen saya berpendapat..
kata saya bukan dosen saya : ya Pak, sudah terlanjur saya beli buku-buku itu..mau diapakan?
kata dosen 2 : tapi kalo mahasiswa tidak banyak baca..mau jadi apa..?
huff!!
takdisangka sekolah itu membuatku bisu telinga..
kata dosen 3 : bukankah sekolah itu untuk cari masalah? coba saja, buku yang diam saja dipermasalahkan 'kan?
argh!!
apa maunya saya di dunia ini..
saya takpernah mempertanyakan adanya Tuhan..
saya juga takpernah menggugat AlQuran..
tapi mengapa semua seperti membara dalam penat dunia..
ntah saya yang hanya sendirian dalam penat
atau ada orang lain atau makhluk Tuhan yang lain sedang merintih sayang dalam genggaman dunia..
ini hanya uneg-uneg (kata anak gaul)
tapi saya memang terkatakan -bahwa- antiklimaks menjadi modal hidup..
hidup siapa?
siapa saja, yang pasti termasuk saya
kata dosen 4 : lebih baik tidak membaca banyak buku teori..karena pasti kamu bisa berpendapat secara jernih dan tidak terkooptasi dengan teori-teori tersebut
Wah!!
lebih hebat lagi kali ini dosen saya berpendapat..
kata saya bukan dosen saya : ya Pak, sudah terlanjur saya beli buku-buku itu..mau diapakan?
21 Oktober 2008
saya mulai nge-blog
upakhirnya..saya mulai mau untuk nge-blog..
jgn sebut saya blogger ya..saya adalah Pancasaja..
mahasiswa di salah satu universitas di Bandung yang -katanya- banyak alumninya yang takbekerja..kata siapa ya?mungkin ini hanya afirmasi gratis saja,,hehe
banyak yang ingin panca bagi dengan semua..
mulai dari pengalaman hidup, tugas kuliah, sampai kenangan masa lalu (wah yang ini pemborosan kata:kenangan pasti adanya di masa lalu,,hehe)
oke..selamat nge-blog (untuk saya sendiri)
jgn sebut saya blogger ya..saya adalah Pancasaja..
mahasiswa di salah satu universitas di Bandung yang -katanya- banyak alumninya yang takbekerja..kata siapa ya?mungkin ini hanya afirmasi gratis saja,,hehe
banyak yang ingin panca bagi dengan semua..
mulai dari pengalaman hidup, tugas kuliah, sampai kenangan masa lalu (wah yang ini pemborosan kata:kenangan pasti adanya di masa lalu,,hehe)
oke..selamat nge-blog (untuk saya sendiri)
Langganan:
Komentar (Atom)
