21 Desember 2008

sesuatu yg sulit

Tidak usah

kesan ini akan mengalir jauh melebihi batas nalarmu, sayang.
Kau bagai dilumat makna.
Takjarang pula kau mengaduh untuk memberi efek jenuh pada takdirmu.
Saya
mencoba membumbui arti takdir kita dengan baluran kata.
Jadi
Kau
juga harus menghormati setiap sayatan itu satu-persatu

Saya takmenyangka kau begitu gundah mempertahankan semua.
Bermula dengan isapan jari sampai kau harus benar-benar menguliknya.

Saya bodoh. Mempertajam sayat dengan lidah.
Tapi kau lebih bodoh! Mempermainkan lidah itu dengan kepak angsa..

22-08

Sendiri

Awalnya bola api itu tidak menggelinding mesra,
Ia hanya berjalan tertatih dengan semangat memakan manusia
Seluruhnya.

Awalnya, perjalanan tertatih itu mengobarkan mesra dalam tumbuk hatinya.
Ia mrmikirkan cara yang lebih suram dari segala.
Musnahkan.

Akhirnya, ia tahu semua percuma.
Karena
Sendiri.

22-08

3.

Redup nelangsa peri hati
Tak ikut marak disampai berang
Ketika bangga ada di sanubari
Tak pelak pasti dinanti orang

22-08

Bantuan

”jangan perkosa saya, Tuan.”
Wanita itu cukup gagah dengan baluran bingkai berwarna jingga
”saya takpeduli. Saya bukan Tuanmu.”

”jangan hina saya, Tuan.”
Seketika itu saya jambak lidahnya dengan pisau yang terhunus.
”saya bukan Tuanmu. Mintalah pada Tuhanmu.”
Wanita itu berkomat-kamit entah, mungkin melagukan sepiring nasehat untuk Tuhan.

Ia butuh bantuan.

22-08

18 Desember 2008

komentar..

Pak Hamid..

adalah dosen saya..

saya bilang dia mirip dengan bapak saya, mukannya aja..kalo postur bdan jauh berbeda..

dia sering banget saya minta untuk mengomentari puisi saya..

jawabannya langsung..aka to the point, tapi membangun saya untuk terus tertatih menulis,.

dia bisa menebak sedang kenapa saya saat suatu puisi dibuat..

pokoknya..

terima kasih Pak,u're amazing..

kembali berpuisi

1. Takut

Saya merasa awam
Kota selalu bingar
Hidup makin lebar

Saya mati diterkam jahanam

Kota ini racun,

malaikat

Pencabut nyawa. Tinggalkanlah!

14-08

2. Kado Terindah

Kotak merah pertanda cinta darimu
Telah aku buang ke tong maksiat

14-08

3. Relawan

Saya jalan tertatih
Menyusuri ruas bambu yang menjalang

Saya tetap jalan
Saya tetap hirup
Saya tetap tertatih

Saya berhasil gagal?
Akh, kau pasti bercanda.

14-08

4. Senyum

Wanita berseragam putih berbaris
Tiga orang tanggal di depan meja

Wanita berseragam putih maju

Menit berlalu
Detik berlalu

Wanita berseragam putih maju

Tahun berlalu
Bulan berlalu

Seragam putih mulai layu,

kuning

Ditinggal tiga orang yang tanggal

14-08

5. Satu per satu

Rinai dan derik melaju satu per satu

Hujan lebih dulu

Derik ikut berlalu
bersamanya

dengan langkah tergegap, rinai mencuri
Derik melampaui senyumnya

Mereka melaju satu per satu melawan sendiri

Sendiri dan kesendirian.

14-08

6. Bangkit

Biru adalah santun dari segala kehidupan
Biru adalah noda baik dari segala ketertindasan

Biru
Rona
Biru
Noda

Biru adalah bangkit dari kemurakan
Biru adalah noda dari separuh Rahwana.

14-08

7. ABC

adalah omong kosong
adalah kebualan

adalah kebaikan yang tersekap

14-08

8. Khatulistiwa

Pandang bukit yang melebar dari arah depan

14-08

9. Satu

Bhineka tidak dilihat dari sisi mendekat
Bhineka hanya lihat kejauhan

Sayat tajam pergaulan membuat rintih kegalauan

Bungah senjata mempermainkan asa kita,
Saudara.

Apa kau taktertantang?

14-08

10. Keanehan

Kata membongkar kata
Kata mengekang kata

Akh, saya takpeduli dengan nasib makna.

14-08

13 Desember 2008

sedang berkalut

IV.

Sebut saja saya Jamilah
Ya saya senang-senang saja

Sebut saja saya Jadah
Ya saya senang-senang saja

Tapi, saya lebih senang dipanggil hibah
Ya, saya mengaku saja.



Kucing

Saya bermimpi sayang,
Kamu mati diterkam kucing kesayanganmu
Iya, yang kamu beri nama semesta

Akh..
Sudah saya bilang saya takmenyukai kamu memelihara kucing

Kamu tahu sayang?
Mimpi itu datang setahap demi setahap

Pertama
Kucing itu minta persetujuan saya untuk membunuh kamu
Kedua
Kucing itu datang meminta benda yang bisa membunuh kamu
Ketiga
Kucing itu telah mengantarkan lidahmu ke rumahku

Aduh, istriku..
Mengapa kau masih saja mau memelihara kucing itu
Kurangkah saya bercerita fragmen mimpi itu?

Saya hanya takut mimpi itu jadi nyata
Dan saya takut mengijinkan kucing itu membunuhmu menggunakan kata dan terhantar lidah di rumah kita.

P31-2008


VI.

Jangan kau coba(-coba) mencongkakkan diri depan aku.
Kau hanya sebutir larva yang memanjang dari orang lain,

Kau sebut apa orang itu?
Ayo! Jangan diam. Aku bertanya,
bukan menunggu kau berfikir.

Buat apa sebenarnya orang itu hinggap di kelu bukumu,

Cih!

Aku tahu kau mengerti.


VII.

“jangan membuang sampah berlebihan, bunda.”

Saya tahu sampah itu hanya akan membuat rumah kita semakin kotor,
Ini sudah kotor, bunda.

“biarkan, biarkan rumah ini semakin kotor dengan sampah yang baik.”

Aku tidak mengerti.
Itu sampah, bunda. Tidak cocok dibuang di rumah,

Buanglah seperlunya.

Kau keterlaluan, Bunda.
Kau buang di tempat tidurku. Di spreiku. Di bantalku.
Bahkan di baju mandiku.

Cobalah Tuhan, beritahu Bundaku yang keras kepala ini,
Bahwa sampah tidak cocok dibuang di rumah.


VIII.

Makhluk kecil itu makan di sekitar badan lalat.
Temannya meneriakkan bahwa ada yang lebih enak di bulu kucing.
Makhluk kecil itu takberanjak, ia lebih senang dengan badan lalat.

Ada sesuatu yang istimewa.

Berjingkat pelan ia masuki buku-buku lalat,
“siapa kau?” kata kutu lalat.
“Astaga! Kau kutu?”
“ya, sepertinya memang ilmuwan menamaiku begitu.”

“kau kutu yang tinggal di badan lalat?”

Kutu itu mengernyitkan alisnya.

“sudah kuduga, kemarin saya memakan saudaramu yang bisu.”

mati suri

Mati Suri

Orang-orang di pasar sedang geger
Penjual sayur dimakan kucing gila!
Penjual bakmi ayam diseruduk kucing hamil!
Penjual gorengan diganyang kucing rabies!
Pedagang buah dicekoki kucing waria!

Koran-koran sempat bingung membuat headline
Tulisan para wartawan ditahan editor
Mereka takmau dunia ikut campur persoalan kucing taktahu diri ini

Editor memutar otak
Dan menemukan judul yang tepat
Biar negara asing takikut membaur

Penjual dan pedagang di pasar sedang mati suri.

P31-2008

puisi lagi..

II.

: soetardji

”cuah” kata saya
”puah” mantramu

”cuah” apa peduli saya
”puah” tetap jawabmu

”cuah” kau jangan main-main
”puah” kendalimu

“cuah” ah kau membuatku seperti letang
“puah” ha ha

“cuah” jangan!
“puah” ha ha

“cuah” sebut saja seperti itu
“puah”

P31- 2008

Semesta

“bunga itu sayang, jangan kau paksa dia mekar,” Kataku
“aku harus memaksanya. Jangan paksa aku untuk takmemaksanya,”katamu

“bunga itu, sayang, bagaikan kilau mentari yang takbisa dibiarkan terik di malam hari,”kataku
“aku takpunya pilihan selain memaksanya. Jangan berangan untuk memaksaku tidak melakukannya,”katamu

“jangan risau, sayang. Pulihkan ingatanmu pada semesta. Jangan lumpuhkan nadimu buat semesta merah,”kataku
“bunga itu, sayang. Ia takkan mau mekar tanpa paksa dan gelora,”katamu

“bunga itu, sayang. Sayang jika kau menaruhnya pada jangkar yang perlu air untuk hidup,”kataku
“baiklah, sayang. Mungkin kompromi ini akan memandikan kita dalam satu seruan : cabut saja akarnya,”katamu.
P31 - 2008

III.

Sajak itu congkak
Membiarkan diri berlari
Bunuh diri penyairnya takmembuat ia gentar.

Sajak itu congkak
Membuat penyairnya memikir pulir-pulir dari waktu yang taksengaja

Sajak itu congkak
Membayar murninya otak yang tak punya muara dengan dendam

sunyi

Roda maya bergetar
“halo, dengan siapa?”
Hari ini kotak sengsara
Besok dari hari ini kotak gembira
Roda dunia bergelepar
“saya, semesta.”

Klik.

P31 – 2008

04 Desember 2008

menjelma puisi

ITU
Buah itu menjadikanku termangu
Begitu kebapakan
Tidaklah aneh kalau buah itu dapat
Meramu, menjelma, dan menyatu

Buah itu mati 

Jika bumi oval
makam buah kebapakan itu haruslah 
Menindih bumi

Bumi kemudian menyerang
Buah itu disergap dalam tanah yang datar
Lalu diolahnya menjadi lubang
Yang sebenarnya takperlu olahan

Lubang itu sekarang hinggap di mataku
Dan berkata
”tolong, hapus daya dari bumi yang bulat ini.”

P31-2008