berdiri di sini bagai duri diterkam api..
aku bagai taklekang diamuk zaman.
tapi,
takakan kukira mereka menyangka.
menyangka.
menyangka dan menyangkal yang ada pada semua.
semua seperti mimpi bagai buah bintang yang mengalun lembut
tapi menikam.
aku padamkan cahya kelam itu,
untuk kembali dapat hadir di bumi ini.
aku senang berjalan.
bagai tepi yang aku sendiri sudah tahu berujung
aku gemetar dan gemetar kembali.
aku takbisa bangun.
bintang itu semakin hangat di dadaku dengan tikam dan terkamnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

3 komentar:
dalam berpuisi seseorang kadang ingin menuangkan perasaan dengan seindahindahnya dan setepattepatnya,namun kadang selalu terjebak oleh keinginan perasaan itu sendiri sehingga membuat beragam diksi tumpangtindih.walhasil keindahan yang ingin diciptakan amburadul.
memang betul bahwa bahasa/diksi puisi adalah bahasa penyair (penulisnya)yang tidak bisa ditiru oleh orang lain,akan tetapi harus sesuai dengan konteks yang sekiranya bisa mendukung setiap baitbaitnya untuk mencapai keutuhan makna yang ingin disampaikan.
"ketika jiwa kelam saat itulah kita terancam"
bahasanya kuat...
namun agak sulit untuk dimakanai
hehehe...
kunjungi blog ku juga yah
met berkarya
assalamualaikum teh panca...
masih inget deri gak...
mmm luarbiasa nih msih konsist nulisnya...
gimana kabarnya????
Posting Komentar